SUKABUMI — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan generasi muda Sukabumi di tingkat nasional. Sekelompok sineas muda asal Kota dan Kabupaten Sukabumi dari satu almamater STISIP Widyapuri Mandiri berhasil membawa pulang sejumlah penghargaan bergengsi dalam ajang RESONANSI: Sinema Festival 2026, salah satu festival film pendek mahasiswa dan pelajar yang menjadi wadah apresiasi karya sinema muda Indonesia.
Melalui film pendek berjudul HIMPIT, tim kreatif asal Sukabumi sukses meraih Juara 2 National Student Short Film serta memborong tiga penghargaan nominasi terbaik, yakni Best Screenplay, Best Editor, dan Best Newcomer Performance.
Film tersebut digarap oleh Dzikhry A. Kharismanna sebagai sutradara sekaligus penulis naskah. Sementara proses penyuntingan dipercayakan kepada Gheandra Abiyasa T, pemeran utama diperankan oleh Lukman Nulhakim, dan dokumentasi produksi didukung oleh Muhammad M. Fadil.
Film HIMPIT lahir dari keresahan terhadap fenomena generasi sandwich yang kian banyak dialami anak muda Indonesia. Melalui pendekatan drama psikologis, film ini berusaha menggambarkan tekanan mental, tanggung jawab keluarga, serta beban hidup yang kerap dipikul secara diam-diam oleh generasi produktif saat ini.
Sutradara sekaligus Penulis naskah yang mendapatkan penghargaan penulis naskah terbaik, Dzikhry A. Kharismanna, mengaku bersyukur atas pencapaian yang diraih timnya dalam festival tersebut.
“Pencapaian sebagai Juara 2 National Student Short Film di RESONANSI: Sinema Festival 2026 ini merupakan sebuah kehormatan besar sekaligus bentuk apresiasi nyata bagi kerja keras seluruh tim di balik layar. Sebagai sutradara dan penulis naskah, saya mendedikasikan karya ini untuk menyuarakan realitas tekanan mental dan beban hidup yang sering kali dihadapi secara sunyi oleh generasi kita saat ini. Semoga penghargaan ini bisa menjadi pemantik awal bagi saya pribadi, serta rekan-rekan sineas muda lainnya, untuk terus berani melahirkan karya sinema yang jujur, tajam, dan tetap membumi,” ujarnya.

Keberhasilan film HIMPIT juga tidak lepas dari peran editor yang berhasil membangun ritme cerita dan emosi film secara kuat. Gheandra Abiyasa T Editor dan Videographer yang berhasil meraih penghargaan Best Editor mengatakan penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk terus berkembang di dunia perfilman.
“Bagi saya, esensi dari editing bukan sekedar menyusun potongan gambar, melainkan menghidupkan jiwa dan emosi sebuah cerita agar benar-benar tersampaikan ke hati penonton. Meraih penghargaan Best Editor di ajang National Student Short Film ini merupakan kehormatan luar biasa sekaligus bukti nyata bahwa proses panjang dan kerja keras di ruang penyuntingan tidak pernah sia-sia. Semoga pencapaian ini menjadi batu loncatan bagi saya untuk terus berkembang dan konsisten melahirkan karya visual yang jauh lebih matang ke depannya,” katanya.

Sementara itu, pemeran utama Lukman Nulhakim yang mendapatkan penghargaan Best Newcomer Performance mengaku tidak pernah menyangka perjalanan kreatif yang awalnya berangkat dari aktivitas sederhana dapat membawanya hingga ke panggung nasional.
“Perjalanan yang bermula dari sekedar keisengan membuat film pendek ini sungguh tidak disangka bisa melangkah sejauh ini hingga menembus panggung nasional dan diakui dalam kategori Best Newcomer Performance. Pencapaian ini tentu menjadi sebuah kebanggaan yang sangat luar biasa bagi saya pribadi. Namun, saya sangat sadar bahwa akting di depan kamera tidak akan ada artinya tanpa dukungan penuh dari kerja keras tim yang solid di belakang layar. Terima kasih banyak untuk seluruh tim sekaligus kawan-kawan hebat saya; penghargaan ini adalah keberhasilan milik kita bersama,” ungkapnya.
Sementara itu, Muhammad M. Fadil yang bertugas sebagai behind the scene mengaku bangga dapat menjadi bagian dari perjalanan film HIMPIT hingga meraih prestasi di tingkat nasional.
Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari kerja kolektif seluruh tim yang terlibat sejak tahap perencanaan hingga proses produksi dan pascaproduksi.
“Menjadi bagian dari tim produksi film HIMPIT merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Sebagai bagian dari behind the scenes, saya menyaksikan secara langsung bagaimana sebuah karya lahir dari proses yang penuh kerja sama, dedikasi, dan semangat seluruh tim. Prestasi yang berhasil diraih di tingkat nasional bukan hanya menjadi kebanggaan bagi para pemenang, tetapi juga menjadi bukti bahwa karya mahasiswa mampu bersaing dan mendapat apresiasi. Semoga pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus berkarya dan mengharumkan nama kampus melalui industri kreatif,” ujarnya.

Keberhasilan tim HIMPIT meraih Juara 2 National Student Short Film, sekaligus memboyong penghargaan Best Screenplay, Best Editor, dan Best Newcomer Performance dalam RESONANSI: Sinema Festival 2026 menjadi bukti bahwa kreativitas dan kualitas karya sineas muda Sukabumi mampu bersaing di tingkat nasional. melalui medium film yang kreatif, kritis, dan dekat dengan realitas masyarakat, prestasi tersebut diharapkan dapat membuka jalan bagi lahirnya karya-karya film berkualitas lainnya dari Kota dan Kabupaten Sukabumi serta mendorong semakin berkembangnya ekosistem industri kreatif di daerah.






